Laman

Jumat, 05 Februari 2016

Keterpaksaan Yang Menjadi Kebutuhan


"Jangan lupa pake kaos kaki ya shalihah, Kaki juga kan aurat." Kalau gak salah kalimat inilah yang masuk kedalam kotak pesanku pada pertengahan bulan Desember 2012 lalu, Tak lain tak bukan, murrobiah-ku lah yang mengirimi pesan ini padaku.

Ah sebel banget, udah disuruh pake rok, kerudung harus diulur macem siswi pesantren, harus pake kaos kaki pula, pengen aktif dimesjid aja ribetnya ko seribet ini. Saat itu begitulah ucap diriku yang entah sedang dirasuki jin jenis apa.

Saat itu pula aku mulai memaksakan diriku untuk mengikuti apa yang diucapkan murrobiah-ku, bukan apa yang Allah perintahkan. Astagfirullah.

Tapi...

Dari saat itu pula, saat aku berkamuplase menjadi "remaja islami" aku pun mulai memiliki relasi pertemanan dengan remaja islami sungguhan, saat itu aku bertemu dengan seorang kakak yang sedang menuntut ilmu difakultas sastra arab disebuah perguruan tinggi negri ternama di kota kembang Bandung, kakak inilah yang menjadi gerbang dimana aku mulai "wah" terhadap pakaian wanita sesungguhnya.

Kakak yang satu ini selalu menggunakan pakaian longgar, dengan kerudung yang super panjang dan selalu memakai manset dan jika ia menggunakan kerudung berbahan tipis ia akan menggunakan kerudung berlapis-lapis sehingga orang yang melihatnya akan bertanya-tanya "Gak gerah apa?" Tapi aku memiliki pandangan bahwa ternyata seorang muslimah itu memang harusnya begitu. Malu jika auratnya tersingkap hingga pakai pakaianpun berlapis lapis.

Dari situ aku mulai mencari-cari bagaimana sesungguhnya tata cara berhijab itu, tanpa paksaan tapi kaena keingin tahuan..

Piku from peduli jilbab
 
Setelah sekian lama cari tahu soal hijab, Suatu hari entah datang dari mana si hidayah, aku mulai memaksakan diri menggunakan kerudung berlapis, mulai dari pergi halaqah hingga pergi ke sekolah.

Kalau pakai kerudung dilapis dan dipakai pergi ngaji itu no problem ya, karena temenku juga seperti itu. Tapi saat mulai menggunakannya untuk aktivitas disekolah rasanya MALU! Iya malu karena gak ada lagi yang kaya gini, aku jadi beda dari temen yang lain hingga sering banget ada yang nanya "kamu pake kerudung berapa sih?" Tapi aku tetap memaksakan diri untuk taat, aku tak berhenti begitu saja karena rasa malu itu.

Aku tetap memaksakan diri hingga suatu hari saat latihan ujian nasional dilaksanakan dan aku harus duduk bersebelahan dengan laki-laki, aku bukan malu soal kerudung dilapis lagi. Tapi malu karena lengan baju yang aku pakai kurang panjang, hingga saat menulis bagaian lengan dibawah mata tangan(?) terekspos jelas hehe. Dari situ aku mulai menggunakan manset. Nah kalu dipikirin lagi, kayanya dari momen inilah keterpaksaanku untuk berhijrah menjadi kebutuhan.

Seingatku dulu, sering banget temen disekolah hingga guru bilang "Kalau mau cari kamu dari ribuan orang disekolah, tinggal liat aja kerudungnya." dan si kerudungkupun jadi ciri khasku.

Ayo sahabatku, ayo paksakan dirimu untuk menutupi auratmu, karena hidayah itu sebenernya gak akan dateng kalau kamu aja gak mau maksain diri kamu buat berubah. Ya kaya firman allah swt pada surah Ar-Rad ayat 11 :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” 
Kalau kamu pengen jadi muslimah yang disayang allah berarti harus gimana dong? Yuk, berubah shalihah. Mari menjadi muslimah yang taat walau awalnya karena keterpaksaan, tapi saat menunggu si kebutuhan tumbuh dihati kita tetap harus memperjuangkannya dengan cara banyakin mengenal allah swt.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar