Aku ingat betul ia berkata
"Kamu tau? Bagaimana caranya dia menempuh pernikahan?"
Meski setengah hati aku dengarkan, kala itu aku tetap sedikit kecewa pada ia yg menjadi pemeran utama pada kisah itu setelah mendengar cerita yang entah benar adanya atau hanya sekedar karangan belaka.
Mungkin, kisah itu akan terlihat biasa saja bagi masyarakat umum. Hanya saja aku, kawanku dan ia berada disebuah jamaah keagamaan yang tentunya memandang sebuah pernikahan itu harus diraih dengan cara yang baik dan berkah.
Lama berselang, aku bertemu dengan ia yang kawanku ceritakan dulu. Ia bercerita tentang kekecewaannya terhadap sesuatu hingga cerita itu berujung pada kisahnya yg menyakitkan karena dituduh melakukan hal yg tidak baik. Entaah kepada siapa aku harus lebih percaya, hanya saja aku melihat binar kejujuran dari matanya, matanya memerah menahan air mata. Aku tak tahu seberapa berat hidupnya dulu hingga sekarang yg masih saja dituduhi seperti itu.
Sedikit merasa bersalah pada ia tapi aku pura-pura saja tidak pernah mendengar kisahnya dari oranglain karena jika aku ceritakan bisa saja ia jadi menyimpan dendam pada kawanku, aku hanya beristighfar pada Allah karena telah memprasangkai buruk kepada orang lain dan berdoa agar ia diberi hati yg lapang serta selalu Allah berikan kebaikan di hari-harinya kelak.
Tak sampai disitu, aku marah pada temanku yg sudah berkata buruk tentang oranglain, lalu aku menghubungi kawanku untuk mencoba mengkonfirmasi darimana ia mendengar kisah sekeji itu. Kawanku hanya berkata ia mendengar dari si ini dan ini, aku menegaskan sekali lagi "Apa ada saksi matanya atau buktinya, hingga ia dituduh sekeji itu? Padahal dari kisah Yang ia tuturkan padaku, ia bercerita pernikahannya diraih dengan cara sebaik mungkin Dan aku tau proses bagaimana ia bisa menikah sampai ia berkata; Tanya saja pada ustadz ku, jika kamu tidak percaya padaku." Kawanku hanya terdiam, aku menangis;
"Bagaimana bisa ada cerita seperti itu. Bukankah kamu Dan mereka sama saja seperti menuduh wanita baik-baik berzina? Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi dia selama ini. Disangkakan keburukan, digosipkan sebagai bunga yang layu. Mungkin kalau aku diposisinya aku memilih memutuskan hubungan dengan orang-orang Yang telah dzalim memfitnahku lalu aku pindah keluar kota untuk mengubur semua kisah menyakitkan ini"
Kawanku semakin terdiam, mungkin saja ada penyesalan dihatinya. Semoga saja.

Pict By louisdallaraphotography.com
Dari kisah ini tentu aku hanya ini berkata gini; untuk kalian teman, kawan, sahabat dan saudaraku. Jika kalian mendegar keburukan pada orang lain, tolong simpan saja itu jangan kamu ceritakan pada yg lainnya, atau jika kamu berani, kamu tanyai saja orang yg sedang menjadi bahan pembicaraannya itu. Jangan sampai hal seperti ini terus berulang dan berulang. Aku tidak suka, ada wanita baik-baik dituduh tidak baik, bahkan menurutku meskipun jika ia memang melakukan hal itu, kamu tetap menjadi orang yg paling buruk diantara kita semua karena sudah menyebarkan aib saudaramu sendiri. Allah memberi kita mulut bukan untuk bergunjing tapi untuk memujinya Dan berkata-kata Yang mengandung kebaikan, Allah memberi kita akal untuk menangkap signal hidayah bukan untuk memprasangkai keburukan pada oranglain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar